
Pagi ini aku ingin mengucapkan selamat jalan
Kepada apapun yang bergerak dan berlalu
Hey, kamu para pecinta yang tak kenal waktu
Teruslah berburu
Namun jangan lupa
Terkadang kebahagian hanya sibuk bermain di belakang
Jendela kamarmu

Hari ini aku sesak nafas. Dadaku berat sekali hingga tak bisa berbuat apa-apa kecuali menghela nafas panjang dan berdoa untuk nafas selanjutnya. Sampai malam, aku memutuskan bertemu seseorang. Seorang teman, yang sesak nafasnya pernah ku dengar ceritanya atau paling tidak pernah coba ku mengerti.
Aku bercerita panjang tentang sesak nafasku dan mengapa dadaku sangat bermasalah akhir-akhir ini hingga tak bisa melakukan apa-apa. Jujur, aku mengharap simpati. Sesalah apapun aku atas penyebab sesak nafas itu, aku berharap mendapat simpati. Namun, ia hanya menghardikku. Sangat masuk akal semua yang ia katakan. Tak sepatah pun bisa kusangga. Benar, aku tak menyiapkan oksigen untuk hidungku karena sibuk mempertanyakan semuanya. Tapi lagi-lagi, aku merasa masih punya rasa. Tadinya aku ingin menumpahkan nafasku dalam bentuk bulir-bulir air. Berharap ia memaklumi. Tapi tidak, kata-katanya menghentikanku. Hanya cerita soal sesak nafas yang keluar dari mulutku.
Ketika jalan pulang. Aku berpikir panjang. Bahkan tempat istimewa sebagai teman itu tak lagi aku punyai, aku terima. Kalau sakit ini satu-satunya yang bisa membuatku bernafas walau mengeluarkan api, ku telan mentah-mentah. Apapun itu.
KU sadari, sesak nafas itu tak berhenti hari ini. Dan
Aku siap. Melangkah. Sendiri.
Hujan masih menyimpan bau debu, jauh di setiap rintiknya menyentuh tanah
Itu saat aku paling merindui kata “selamat pagi” dari mulutmu
Kalimat sederhana yang menandakan aku tak mengalami hari ini sendiri
“Mari sarapan” lanjutmu sambil berhenti di depan hatiku
Sibuk tersenyum dan mengetuk
Namun sayang, aku tidur sangat larut
Tak punya cukup tenaga untuk menuju pintu dan menyaut
Namun, belum jauh “Makan siang, mungkin” ucapmu dalam hati
Namun tetap, kita punya mimpi sendiri-sendiri
Di mana kata Tempat singgah dan persimpangan itu belum sempat ada
Marilah, aku menyisakan tempat duduk di teras rumahku
Walau terkadang tak sempat bicara berdua
Paling tidak kita tahu
Tempat itu akan selamanya di situ dan untukmu
Sejak tahun kemarin, saya sudah berhenti membuat resolusi setiap tahun baru. Alasannya sederhana, semakin rinci saya berencana, semakin jauh rencana itu dari realisasinya. Alasanya gampang, saya nyaris tak melakukan apa-apa tahun ini kecuali berdiam di tempat. Tahun kemarin saya merasa semua usaha saya sia-sia. Bertahun-tahun saya mempertahankan apa yang harus saya pertahankan, dirusak begitu saja oleh seseorang yang seharusnya membantu saya mempertahankan hal yang sudah ada. Saya remuk dan menghilang dari saya yang dulu, mengawang-awang di atas, tak tahu di mana, kapan, dan bagaimana harus berpijak.
Penghancur impian saya itu tak bertanya mengapa. Ia hanya berdoa semoga saya berhenti marah-marah, pulang ke diri saya yang dulu. Namun, satu tahun saya tak kemana-kemana. Tak menjauh ataupun mendekat.
Tahun ini, saya tak bisa bilang saya sudah punya diri yang baru atau kembali ke diri yang lama. Saya masih tak tahu di mana saya dan akan saya apakan. Namun, karena alasan-alasan yang praktis, saya akan menghentikan apa yang dulu saya perbuat. Saya tidak akan membuat resolusi melainkan menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Menunaikan tanggung jawab dan tugas-tugas dari fungsi dan identitas yang saya emban ketika lahir ke dunia. “Mau jadi apa?” Saya tak tahu dan tak berpikir akan menemukan apa-apa tahun ini.
Hanya satu yang saya rasakan, bosan tak terhingga. Mungkin ini trigger satu-satunya kenapa saya ingin melakukan hal yang berbeda. Sakitpun tetap ada batasnya.
12:25
Dulu saya membanggakan rasa itu karena saya merasa memilikinya. Pernah suatu ketika, saya berkata pada seorang teman, “ini cukup. Saya tidak perlu minta apa-apa lagi sama Tuhan.” Bukan hanya kata-kata, tapi itu yang saya rasakan.
Namun, akhir-akhir ini saya kembali merenungkan kalimat itu dan mendapati bahwa saya bersyukur karena memang saya mendapatkan semua yang saya mau. Buktinya, sekarang, ketika semua hal menjadi tak lagi sesuai keinginan saya, kata syukur tak lagi jadi agenda harian. Ia menguap bersama kekecewaan demi kekecewaan saya selama tiga tahun ini. Saya ternyata belum menguasai ilmu bersyukur seperti yang dahulu sering saya banggakan dalam hati. Saat ini sebenarnya saat yang tepat untuk menguji rasa langka itu. Apakah saya benar-benar mempunyainya; yaitu di saat saya tak mendapatkan apapun yang saya minta.
Akhir-akhir ini saya begitu pemarah, begitu pencemburu. Cemburu akan keberhasilan orang lain, cemburu akan hidup orang lain hingga merambat ke cara saya memandang orang lain. Dulu saya begitu percaya bahwa setiap kebaikan pasti ada ganjarannya. Namun, tiga tahun ini saya benar-benar dicoba karena walaupun saya melakukan hal yang baik, saya jarang mendapatkan hal itu. Hingga akhirnya, saya tak terlalu berniat menolong orang lain.
Beberapa hari yang lalu saya menulis status di sebuah jejaring sosial, “kalo gw selalu repot mikirin orang, kapan orang mau repot mikirin gw?” Itu tanda marah dan kecewa saya, benar-benar terhadap semua orang. Mulai hari itu, atas nama emosi, saya mulai malas membalas sms dengan nada menolong atau menuruti permintaan-permintaan kecil orang-orang di sekitar saya. Saya menikmati diri sebagai orang yang egois. Beberapa waktu, terasa sangat menyenangkan. Saya melakukan apa yang saya suka tanpa harus memikirkan orang lain.
Namun, malam ini saya tersadar. Setelah menonton sebuah serial dengan tema natal yang intinya adalah kebaikan hati. Saya merindukan diri saya yang dulu. Merindukan kebaikan-kebaikan membabibuta pada orang-orang yang bahkan tak terlalu peduli terhadap saya karena saya memang ingin melakukannya. Saya mulai memaksa diri bahwa batasan kebaikan itu memang tak ada. Bahwa sesungguhnya menolong orang lain sebenarnya adalah kemampuan yang harus saya syukuri!
Sejak ibuku rajin sekali mengingatkan agar aku memikirkan soal pernikan, tema atau fase paling ruwet dalam hidup ini, aku jadi ikutan sibuk memikirkannya. Beberapa saat setelah pulang kampung (waktu yang paling tepat digunakan ibuku untuk menterorku secara intensif), aku ber-ym ria dengan seorang teman. “Gw bakal cari pacar. Beneran ini!” Awalnya dia tertawa, ia tahu aku tak pernah ingin berepot2 dengan hal satu ini. Tapi akhirnya, ia bersimpati. “Gitu dong, dari dulu kek!” Walau niatku tak sekuat kalimat di YM itu, paling tidak aku lebih sering membicarakannya (emang ngaruh ya?!)
Setelah melihat tingkah pola orang-orang di sekitarku berjibaku dengan urusan mencari jodoh, aku menemukan ada dua pola. Pertama cari jodoh independen. Pasca era Kartini atau Siti Nurbaya, cara ini populer di gunakan. Sebagian menganggap ini salah satu manifestasi kemandirian atau emansipasi, namun bagi yang lain, memang tidak kepikiran cara lain. Indonesia, biarpun mayoritas Islam, istilah pacaran tidak terlalu dipersoalkan. Bahkan, ada yang memulainya dari usia dini. Namun, pacaran dalam rangka menikah baru akan dijalani serius oleh perempuan dan laki-laki setelah umur mereka 20an. Biasanya, orang tua akan menuntut tingkatan sempurna dalam hidup kita; lulus kuliah, cari kerja, menikah.
Mencari pasangan dengan cara ini bisa dibilang sangat tricky. Temanku yang satu, sudah pacaran lima tahun, belum juga ingin menikah. Sedangkan yang lain, baru pacaran setahun, sudah siap lahir batin. Semua kembali ke pribadi masing2, masalah siap atau tidak siap dan masalah apa sebenarnya pernikahan dan hubungan. Cara yang satu ini, semua didasarkan oleh ketertarikan pada lawan jenis atau disebut cinta. Cinta diandalkan dan dieksploitasi bisa mengatasi segala hal, termasuk mengatasi perbedaan keduanya. Terkadang proses pacaran tidak berdasarkan checklist. Seperti ungkapan basi, “Kalo cinta sudah melekat, tahi kucing rasa coklat.” Tak satapun mau mengaku memang begitu adanya (paling tidak teman-teman saya) tapi bila ada kasus orang gantung diri karna patah hati, atau istri yang rela digebukin suaminya, atau suami yang membunuh selingkuhan istrinya, alasan untuk membenarkan semua peristiwa itu hanya satu: CINTA.
Pasangan-pasangan yang didasarkan pada rasa cinta atau segala –philia ini menikah ketika si cowok meminta atau orang tua mendesak. Saya kurang tahu bagaimana kata menikah tercetus dari mulut masing2, seperti di film-film Hollywood kah? Atau melalui pembicaraan serius keduanya. Proses ini umum sekali terjadi. Konsekuensi dari cara ini adalah, seperti kemerdekaan yang lain. Tanggung jawab ada pada diri sendiri.
Cara kedua adalah perjodohan. Bagi sebagian orang ini dianggap kuno, konservatif, bahkan jahat. Perjodohan biasanya dilakukan oleh keluarga religius atau tradisional yang masih memegang nilai-nilai budaya dan kebiasaan masing-masing. Namun, jangan salah perjodohan juga terkadang di lakukan oleh orang modern kota. Perjodohan yang seperti ini tentu tidak seperti Siti Nurbaya, tanpa paksaan. Orang tua atau saudara hanya sebagai penghubung berkenalan. Keputusan tetap di tangan masing-masing. Bila berdasarkan agama, ini agak berbeda, terutama Islam.
Dahulu, ketika mendengar perjodohan dan proposal perkawinan, saya bergidik. Saya yang baru belajar feminisme tentu menolak mentah-mentah. Alasannya gampang, “bagaimana bisa menikah dengan orang yang hanya ketemu 3 kali? Yang bertahun-tahun pacaran aja belum tentu mengerti karakter masing-masing.” Namun, setelah mendengar curhatan teman-teman yang dijodohkan, saya memahami ini hanya proses. Teman saya itu memang tak ingin berpacaran karena Islam tak mengenal kata berpacaran. Kalaupun ia ingin menikah, hanya akan ada proses taaruf (perkenalan). Namun, tetap keputusan di tangan teman saya.
Mencari pasangan dengan cara ini terkadang terlihat lebih masuk akal. Tanpa cinta atau kedekatan, orang-orang bisa berpikir jernih mempertimbangkan seseorang secara objektif. Toh dalam pernikahan, yang kita hadapi sehari2 masalah itu-itu juga. Yang dilihat saat proses pertama adalah pendidikan, agama, keluarga, dan fisik. Ini gampang dinilai dari luar dan gampang di kroscek. Setelah cocok, keduanya akan bertemu dan ngobrol untuk pengenalan karakter. Di sini, proses mencari pasangan bukan lagi masalah hati tapi lebih masalah praktis yang sistematis. Bila cocok, akan ada pertemuan selanjutnya, bila tidak bisa dibatalkan. Dan pastinya, tak ada heart-feeling, toh baru sekali bertemu.
Bila dibilang, ini seperti membeli kucing dalam karung malah salah sekali. Orang tua sebagai agen perjodohan sangat selektif (namun tetap, selera orang tua tak bisa disamakan dengan selera anak muda). Saya pikir orang yang ingin menjalani ini percaya bahwa cinta tumbuh berdasarkan proses. Pandangan pertama hanyalah ketertarikan fisik, selanjutnya tergantung bagaimana keduanya menjalani bersama. Masalah paling riskan dari hal ini adalah pengenalan karakter. Layaknya sebuah film, karakter baru bisa dikenal ketika orang beraksi terhadap apa yang terjadi. Namun, ini bisa dieleminir dengan sifat-sifat baik yang dimiliki orang-orang ini.
Tanpa cinta, orang memang bisa sepragmatis ini. Seperti temanku, ketika ada laki-laki yang ingin mencoba proses taaruf, yang ia pikirkan adalah, baik dan buruknya, sampai apakah hobi mereka cocok atau tidak. Ini sama seperti memilih pacar, hanya saja dosisnya dinaikkan sampai empat kali lipat. Proses tahun pertama adalah masa yang sulit, penyesuaian diri. Mencoba memahami isi kepala masing-masing. Namun baiknya, semoga nilai agama membantu. Saya membaca di sebuat hadis, “Bila kamu ingin menikah, menikahlah dengan laki-laki baik, kalaupun dia tidak mencintai kamu, paling tidak dia tidak akan berlaku jahat padamu.” Miris, namun ada benarnya. Tapi apakah baik saja cukup untuk menjalani pernikahan?
Dulu, aku sering bertanya bagaimana bila suatu hari kita tersadar bahwa kita tidak ingin menghabiskan sisa hidup kita pada laki-laki/perempuan tersebut. Mentor saya mengatakan, tidak mungkin kalau menikah karna menginginkan ridho Allah. Saat itu yang saya hanya menggeleng. Tidak masuk akal. Saya bukan malaikat. Namun setelah melihat beberapa teman terlihat bahagia dengan cara ini, saya sadar sesuatu. Hal yang saya pikir tidak mungkin terjadi pada saya, belum tentu tidak bisa terjadi pada orang lain kan?! Tak ada yang salah dengan kedua cara tersebut. Karena terkadang masalahnya bukan bagaimana kita memilih tapi bagaimana sikap kita dengan pilihan kita. Memilih jodoh serupa dengan tebak-tebak buah manggis, berapapun hasilnya, yang terpenting tetap berasa manis.
04:48 pm